Trik Menulis Praktik Baik
Dalam kesempatan ini ayo kosongkan gelas dan saling berbagi ilmu. Saya yakin di grup ini ada banyak yang juga berprofesi sebagai guru. Maka, di momen spesial dalam rangka hari guru, saya ingin mengajak sahabat penulis sekaligus guru untuk berkarya bersama menulis buku tentang praktik baik selama kita mengajar.
Apa kata kunci untuk praktik baik? Menurut saya yaitu, berpikir, bertindak, daya tahan, tantangan, pemecahan masalah yang solutif, semangat dan komitmen untuk mengajar tanpa pamrih.
Selain itu praktik baik harus menginspirasi, inovatif, kebaruan, asli dan dan menjadi teladan. Tujuan menulis praktik baik yaitu agar bisa memberikan semangat dan motivasi bagi pembacanya yaitu guru-guru di Indonesia, bisa menginspirasi dan memberikan dorongan sehingga menjadi solutif atau pemecahan masalah serta memberi kemanfaatan bagi orang lain.
Sahabat SIL dalam materi kali ini saya ingin kita bisa langsung praktik. Sehingga ilmu yang diberikan bisa bermanfaat. Maka, saya akan memberikan contoh dalam kegiatan sehari-hari di sekolah sebenarnya sudah ada banyak praktik baik yang kita lakukan di kelas.
Salah satunya yaitu diawali dengan penjabaran masalah dan tantangan yang dihadapi, apa yang kita pikirkan dan lakukan saat itu, temuan apa yang kita dapatkan dari hasil refleksi, apa yang anda lakukan dalam menghadapi situasi dan rintangan, apa yang telah anda korbankan sebagai teladan untuk pembaca misalnya berupa waktu, tenaga, dan pelayanan tanpa pamrih, apa tindakan anda terhadap permasalahan yang dihadapi.
Terakhir, tulis hal inovatif (kebaruan) yang bisa menginspirasi orang lain. Ide kreatif yang kita dapatkan bisa dari berbagai sumber misalnya dari aplikasi PMM, dari tutor teman sebaya, melalui kombel atau dari internet, lalu kita coba hal yang berbeda dari contoh yang sudah ada kemudian kita terapkan dalam pembelajaran di kelas.
Teknik dalam menulis praktik baik bisa berupa artikel atau kisah inspiratif. Dalam hal ini kita harus melakukan riset terlebih dahulu lalu kita tuliskan dengan gaya tulisan yang menarik. Bisa juga menambahkan quote motivasi pada tulisan anda. Terakhir anda juga bisa memberikan kata penutup yang berisi penguatan atau motivasi untuk pembaca.
Nah, untuk memudahkan menulis praktik baik kita perlu trik. Salah satu trik yang ingin saya bagikan adalah dengan menulis jurnal refleksi.
Banyak orang yang bertanya bagaimana bisa membuat karya dengan mudah? Bila kamu seorang guru, cobalah setiap hari menulis jurnal refleksi, begitu juga bila kamu seorang mahasiswa atau aktivis. Jurnal refleksi akan mewujudkan harapanmu hingga lahir buku solo.
Percaya, ngga kalau semudah itu menulis? Ya, bagi seorang guru jurnal refleksi harian bisa ditulis menjadi praktik baik. Semua hal yang dirasakan dan terjadi, jika dituliskan maka akan menjadi sebuah karya. Tentu saja ada beberapa tips yang harus kita perhatikan agar karya yang kita tulis jadi lebih bermakna dan bukan hanya sekadar tulisan.
Dr. Roger Greenaway mengembangkan metode 4f (Facts, Feelings, Findings, Future) artinya jurnal ini mencerminkan peristiwa, perasaan, pembelajaran dan penerapan yang dilalui guru dalam proses pembelajaran di kelas.
1. Facts (peristiwa)
Ceritakan pengalamanmu saat mengajar di kelas atau saat kamu menerapkan aksi nyata. Ceritakan hambatan atau kesulitan apa yang kamu hadapi saat mengajar dan hal baik apa yang terjadi serta solusi apa yang kamu lakukan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Contoh: Kemarin saya mengikuti kegiatan workshop inklusi secara luring. Dalam sesi itu, saya menemukan cara untuk mengajar anak inklusi yaitu dengan pendekatan bermain. Pada saat pertemuan mengajar anak inklusi, saya mencoba untuk menerapkannya.
Satu orang siswa inklusi saya ajak untuk bermain tebak gambar. Saya memfasilitasinya sebuah buku dan gambar yang sudah dirancang agar anak mudah belajar membaca. Buku itu berwarna warni dan di dalamnya terdapat gambar yang beraneka ragam. Pada setiap gambar ada huruf awalan satu suku kata. Saya menunjukkan ke siswa dan dia menebak kata selanjutnya. Siswa saya sangat antusias menebaknya dan aktif bermain.
2. Feelings (perasaan)
Bagaimana perasaanmu selama pembelajaran berlangsung? Apa yang kamu rasakan saat menerapkan aksi nyata? Ceritakan hal yang membuatmu memiliki perasaan tersebut? Contoh: selama proses pembelajaran berlangsung, saya merasa bersemangat karena antusiasme anak inklusi di sekolah kami meningkat. Hal itu juga membuat kami puas. Saya melihat kebahagiaan di wajahnya, saat dia berhasil menebak kata dalam gambar itu. Saat itulah membuat saya merasa bahwa usaha saya sangat berarti.
3. Findings (pembelajaran)
Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal yang serupa di masa depan? Apa tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? Contoh: Dari pengalaman ini saya belajar bahwa inovasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi bagi siswa.
Saya menemukan bahwa memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri melalui bermain dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis mereka. Saya juga menyadari bahwa saya perlu lebih peka terhadap kebutuhan individu setiap siswa untuk memastikan semua hal berjalan dengan optimal.
4. Future (penerapan)
Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik, jika saya melakukan hal yang serupa di masa depan? Apa aksi atau tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini? Contoh: Kedepannya saya akan lebih memperhatikan perbedaan kemampuan diantara siswa dan saya akan menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan serta mencari cara untuk mengupayakan pembelajaran yang kreatif. Sehingga bisa diterapkan dalam kegiatan mengajar di sekolah.
Contoh keseluruhan
Pendidikan Inklusi, Mendidik Dengan Cinta
Oleh Maryanah, S.Pd
Pendidikan inklusif sebagai suatu sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik termasuk yang mempunyai kelainan dan potensi kecerdasan atau bakat istimewa untuk mengikuti pembelajaran yang sama dengan siswa lain pada umumnya.
Konsepnya semua siswa mempunyai hak yang sama dengan siswa lainnya untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas sehingga terjadi keberagaman di lingkungan sekolah. Anak-anak berkebutuhan khusus butuh perhatian dan dukungan dalam pendidikan. Sehingga kita sebagai pendidik perlu memberikan layanan terbaik dalam kegiatan belajar sesuai kebutuhan peserta didik.
Saya pernah mengikuti kegiatan workshop inklusi secara luring di Gedung Baleka Dinas kota Depok. Dalam sesi pelatihan tersebut, saya menemukan cara untuk mengajar anak inklusi yaitu dengan pendekatan individu. Saya pun tercetus ide untuk melakukan pendekatan bermain huruf dengan gambar. Pada saat pertemuan mengajar anak inklusi, saya mencoba untuk menerapkannya.
Satu orang siswa inklusi saya ajak untuk bermain tebak gambar. Dia bernama Fulan, siswa kelas tujuh SMP Islam YKS. Saya memfasilitasinya sebuah buku dan gambar yang sudah dirancang agar anak mudah belajar membaca. Buku itu berwarna-warni dan di dalamnya terdapat gambar yang beraneka ragam. Pada setiap gambar ada huruf awalan satu suku kata. Saya menunjukkan ke siswa dan dia menebak kata selanjutnya. Siswa saya sangat antusias menebaknya dan aktif bermain.
selama proses pembelajaran berlangsung, saya merasa bersemangat karena antusiasme anak inklusi di sekolah kami meningkat. Hal itu juga membuat kami puas. Saya melihat kebahagiaan di wajahnya, saat dia berhasil menebak kata dalam gambar itu. Saat itulah membuat saya merasa bahwa usaha saya sangat berarti.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa inovasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi bagi siswa. Saya menemukan bahwa memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri melalui bermain dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis mereka. Saya juga menyadari bahwa saya perlu lebih peka terhadap kebutuhan individu setiap siswa untuk memastikan semua hal berjalan dengan optimal.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa inovasi dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi bagi siswa. Saya menemukan bahwa memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar secara mandiri melalui bermain dapat mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis mereka. Saya juga menyadari bahwa saya perlu lebih peka terhadap kebutuhan individu setiap siswa untuk memastikan semua hal berjalan dengan optimal.
Kedepannya saya akan lebih memperhatikan perbedaan kemampuan di antara siswa dan saya akan menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan serta mencari cara untuk mengupayakan pembelajaran yang kreatif. Sehingga bisa diterapkan dalam kegiatan mengajar di sekolah. Ingatlah Bapak dan Ibu guru “Tantangan besar apapun bisa kita lewati asalkan kita bersungguh-sungguh dalam melaluinya dengan sabar, ikhlas dan tak tetap optimis dalam berjuang.” Semoga tulisan ini menginspirasi.
Itulah contoh tulisan yang saya buat ayo kita praktik dan membuat karya bersama.
Salah satu praktik baik di sekolah yang pernah saya buat menjadi karya ada di bawah ini:
Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia Menggunakan Metode Project Based Learning
Oleh: Maryanah, S.Pd
Aku adalah seorang guru yang telah mengabdi selama lima belas tahun, tepatnya di SMP Islam YKS. Sebuah lembaga pendidikan yang bernaung di bawah Yayasan Kesejahteraan Sosial. Mayoritas siswaku adalah anak-anak yatim dan dhuafa. Yayasan tersebut bukan hanya bergerak di bidang sosial, tetapi juga di bidang pendidikan. Saat tahun pertama aku mulai mengajar di sana, muncul berbagai persoalan yang sulit kuhadapi. Aku sadar ternyata tak mudah menaklukan sebuah kelas, apalagi memberikan ilmu kepada siswa yang sedang mengalami masa pubertas. Mereka cenderung labil dan sulit dikendalikan.
Bagiku mendidik anak-anak yatim yang telah kehilangan cinta dari orang tuanya, tidaklah mudah. Sebab kurangnya kasih sayang dari orang tua, membuat mereka tumbuh menjadi anak yang liar. Tak mau terikat dengan peraturan sekolah apalagi untuk menimba ilmu. Rasa kesepian membuat mereka tak lagi menghargai seorang pendidik. Setiap ada guru yang bersikap tegas, mereka selalu dendam dan melawan. Seolah-olah ingin membuktikan pada dunia bahwa mereka ingin bebas dan diakui. Salah satunya siswa kelas sembilan empat yang bernama Guntur.
Ia bersama teman-teman satu gengnya, membuat gempar sekolah. Kenakalan yang ia lakukan semata-mata untuk menunjukkan bahwa dirinya ingin dihargai. Ia merusak fasilitas sekolah seperti bangku, papan tulis, dan meja. Bahkan, ia juga mencoret-coret dinding kelas dengan membuat graffiti. Sehingga kondisi kelas menjadi porak-poranda dan kotor. Saat peristiwa itu terjadi, tak ada satu pun siswa yang berani melapor pada guru, karena merasa takut akan ancaman Guntur. Jumlah anggota geng yang dipimpinnya, sekitar lima belas siswa. Mereka berasal dari keluarga yang broken home dan anak yatim piatu.
Bagi mereka sekolah hanyalah tempat untuk melampiaskan rasa sakit hati. Tak ada satu pun guru yang mereka takuti, sehingga mereka dengan bebas berbuat semaunya tanpa adab. Guntur sengaja memprovokasi siswa lain agar melawan pada guru. Terutama guru yang suka memberi tugas dan sering menghukum. Saat rapat tahun ajaran baru, sialnya akulah guru yang terpilih menjadi wali kelas Guntur. Aku tak dapat menolak tanggung jawab itu dan terpaksa menerimanya dengan ikhlas. Mulai saat itulah waktu seakan berhenti berputar dan kisah ini bermula.
Tantangan yang kuhadapi cukup berat, setiap hari aku harus mengelus dada dengan sikapnya yang acuh. Namun, aku mencoba untuk bersabar dan menjalani tugas mulia itu. Ternyata setelah aku selidiki Guntur juga punya beberapa kasus. Diantaranya merokok di lingkungan sekolah, perbuatan asusila dengan teman sebaya, bermain game pada saat kegiatan belajar, membolos, dan tawuran. Bukan hanya itu, prestasi Guntur pun menurun, ia tidak naik kelas pada tahun ajaran sebelumnya karena nilai ulangannya selalu di bawah KKM.
Berbagai upaya kulakukan untuk menyelesaikan kasus Guntur dan anggota gengnya. Aku memanggil mereka ke kantor. Kucoba untuk bicara dengan mereka dari hati ke hati, tetapi mereka tetap tak mau mendengarkan dan bersikap acuh. Aku pun akhirnya melakukan home visit. Aku ingin mencari tahu titik permasalahan dan penyebab dari semua hal yang terjadi. Namun, kenyataan yang kudapati begitu miris. Hampir semua orang tua mereka angkat tangan dan tak mau peduli, terlebih lagi ibunya Guntur yang bernama Bu Maryam.
Ia tak mau dibuat pusing dengan ulah anak labil itu, apalagi mereka mengalami kesulitan dalam hal ekonomi. Sehingga Bu Maryam tak mampu untuk mengganti kerugian akibat ulah Guntur bersama gengnya yang telah merusak fasilitas ruang kelas. “Kalo si Guntur nakal pukul aja Bu! Emang dasar bocah nggak tau diuntung, udah sekolah gratis malah bikin masalah! Jangankan buat ganti rugi, buat makan sehari-hari aja sulit! Keluarin aja Bu dari sekolah, biar nanti saya suruh mulung.” Ucap Bu Maryam kepadaku.
Saat itu tenggorokanku tercekat dan rasa hati ingin berteriak, tetapi apa daya aku hanya mampu menahan geram. Tak ada solusi yang kudapatkan, bahkan hati ini bertambah perih saat mendengar ucapan Bu Maryam. Anak seusia Guntur, seharusnya tetap mengenyam pendidikan untuk masa depannya karena wajib belajar Pendidikan Dasar selama sembilan tahun merupakan program pemerintah untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman.
Berdasarkan undang-undang Pendidikan Nasional nomor 2 tahun 1989. Pemerintah berupaya meningkatkan taraf kehidupan rakyat dengan mewajibkan semua warga negara Indonesia yang berusia 7 sampai 12 tahun dan usia 12 sampai 15 tahun untuk menamatkan Pendidikan Dasar dengan program 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP secara merata. Oleh karena itu, sebagai pendidik aku wajib mendukung Guntur untuk tetap menuntut ilmu di sekolah. Meskipun, orang tuanya tak peduli.
Saat senja tiba aku pulang dengan hasil nihil, tetapi aku tetap bersabar dan berharap sebuah keajaiban terjadi. Namun, keesokan harinya sikap Guntur malah semakin keterlaluan. Sebuah peristiwa memalukan pun terjadi, ia melecehkanku di depan kelas. Saat kegiatan belajar, rupanya ia sengaja ijin ke toilet dan kembali ke dalam kelas dengan maksud tertentu. Aku terkejut saat tiba-tiba ia berdiri di belakangku dan tangannya meraba pakaian dalamku. Sontak wajahku merah padam sambil menoleh kearahnya dengan geram. Kemudian aku berontak dan menatapnya garang.
Aku berusaha untuk menghalau tangannya. Namun, dengan cepat ia kabur ke tempat duduknya dengan wajah penuh kemenangan. Saat itu pertahananku mulai runtuh. Namun, aku tak ingin menyerah dan berusaha menerima peristiwa itu dengan lapang dada. Aku memanggil Guntur ke kantor sambil menahan emosi. Di sana aku menegur perbuatannya yang tidak sopan, tetapi ia bersikap acuh dan tidak mau minta maaf. Matanya menatapku penuh amarah, seolah-olah ia memendam kebencian yang teramat dalam. Dengan cepat, ia langsung berlari keluar kantor dan membolos bersama gengnya. Tak ada satu pun orang yang bisa mencegahnya. Satu per satu bulir air mataku tumpah. Aku tak bisa menahan diri, perasaanku semakin kacau hingga beberapa menit kemudian, aku mencoba untuk menenangkan diri.
Tiba-tiba aku termenung. Tidak semua siswa di sekolah ini yang nakal seperti Guntur, tetapi karena ulahnya, aku malah melupakan siswa lain. Apa salah mereka? Padahal mereka semua layak mendapatkan ilmu dariku. Mengapa aku harus berhenti menjadi guru, hanya karena ulah anak nakal ini? ucap batinku lirih. Kupandangi potret siswa-siswi berprestasi terpampang di dinding ruang kantor. Mereka adalah siswa yang menang dalam perlombaan O2SN di tingkat kota, aku mulai terharu.
Ternyata banyak bakat siswa yang terpendam di sekolah ini dan tugasku sebagai guru adalah membimbingnya. Mereka ibarat mutiara, apabila aku bisa memolesnya dengan sungguh-sungguh, niscaya mereka akan menjadi berlian yang berharga. Saat itu aku tersadar dan kembali berkomitmen untuk tetap mengajar di sekolah. Sehingga aku mulai mengatur strategi pembelajaran. Kemudian, aku meminta doa dari anak-anak yatim, agar tujuan mulia ini tercapai. Tekadku semakin kuat, aku tak peduli dengan halangan apapun bahkan aku rela memotong sedikit gajiku untuk misi ini.
Sejak detik itu aku mencari cara agar mereka mau mengikuti pelajaran di kelas. Aku yakin bila aku bisa mengendalikan kelas, maka akan lebih mudah bagi mereka untuk menerima pelajaran dengan baik. Aku mendapat sebuah ide dari berbagai sumber. Dalam mengajar pelajaran Bahasa Indonesia, aku berupaya menggunakan metode project based learning. Sebuah model pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada pendidik untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek. Hal itu merupakan suatu bentuk kerja yang memuat tugas-tugas kompleks, berdasarkan pertanyaan dan permasalahan yang sangat menantang.
Aku menuntun siswa untuk merancang, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja secara mandiri. Aku juga mulai merancang proyek kerja bersama mereka dengan membuat kelompok diskusi. Mereka sangat kompak dalam praktek untuk kompetensi bermain drama dan musikalisasi puisi. Aku membuat kegiatan tersebut menjadi sebuah lomba antar kelas yang menantang kreatifitas dan daya imajinasi mereka. Sehingga mereka saling bersaing untuk menjadi yang terbaik.
Aku menyiapkan hadiah untuk mereka mulai dari piala, sertifikat dan buku bacaan.Tiada usaha yang mendustai hasil, selama sebulan proyek kerja ini terlaksana dengan baik. Aku pun telah menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Namun, aku puas karena tujuanku telah tercapai. Hubunganku dengan mereka menjadi dekat bahkan kini aku menjadi tempat curhat bagi mereka. Aku bahagia karena bisa mendapat tempat dihati mereka. Saat acara pementasan bermain drama, Guntur bertanggung jawab sebagai crew yang mengatur alih musik dan suara. Ia dan gengnya juga menampilkan musikalisasi puisi yang sempurna. Sungguh tak disangka, ternyata ia melaksanakan tugasnya dengan baik.
Berkat kemampuan yang dimilikinya, penampilan drama kelas sembilan empat tampak memukau dan mendapat tempat di hati penonton. Ternyata metode project based learning sangat efektif di gunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa menjadi mandiri, kreatif dan aktif dalam proses belajar. Nilai dan prestasi mereka pun meningkat. Kini Guntur dan teman-teman gengnya bisa mengaktualisasikan diri, dengan membuat band dan mengharumkan nama sekolah. Mereka sering tampil dalam acara seni dan menjadi juara dalam lomba band yang diadakan oleh pihak sekolah. Hasil dari metode belajar ini memang menakjubkan. Aku tak menyangka dengan kemampuan yang mereka miliki dan ternyata mereka berbakat dalam berbagai bidang.
Sehingga aku pun membuat lomba dalam kompetensi lain seperti menulis cerpen, menulis cerita inspiratif, berpidato dan karya ilmiah. Aku yakin tiada usaha yang mendustai hasil. Hikmah dari kisah perjuanganku ini adalah sebagai guru kita harus memiliki kesabaran untuk melakukan pendekatan personal dengan siswa yang bermasalah. Sebaiknya kita tidak memberikan hukuman yang keras, sehingga membuat siswa semakin benci dan menjauh. Namun, berikanlah hukuman yang sesuai dan mendidik lalu berikan apresiasi terhadap apa yang mereka lakukan, salah satunya dengan pujian dan hadiah agar mereka tambah semangat.
Hal itu akan membuat mereka merasa dihargai, sehingga mereka tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Semoga pengalaman berharga ini bermanfaat bagi seluruh guru di Indonesia. Berjuanglah dalam menaklukkan tantangan di kelas, jangan pernah mundur dan menyerah. Tetaplah semangat dan berusaha mencari solusi terbaik bagi setiap permasalahan yang dihadapi.
Sumber: Nurohman, Sabar. Pendekatan Project Based Learning Sebagai upaya Internalisasi Scientific Method Bagi Mahasiswa Calon Guru Fisika. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/132309687/project-based-learning.pdf
Sahabat SIL itulah ilmu yang bisa saya berikan semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar