Self Talk, Perjuangan untuk Pulih


Andaikan pikiran tak selalu dibawa-bawa kemana pun. Andaikan bisa ditaruh seperti helm tentu tubuh tidak akan merasakan dampak dari pikiran yang brutal ini. Jika kemana pun kita kepikiran, maka hidup kita akan dikuasai pikiran. Akibatnya, kita terjebak. Bayangkan saja, jika pikiran negatif datang, rasa insecure menjadi bumerang dalam hidup kita. Akhirnya tubuh kita akan merasakan sakit. 

Nah, jika sakit ini dibiarkan saja secara berkepanjangan maka lama kelamaan sakit itu akan menjadi parah dan membahayakan diri sendiri. Namun, jika kita bisa mengontrol pikiran. Ya, dengan mengaturnya untuk selalu berpkir positif, saya yakin tubuh kita akan selalu sehat karena didalam pikiran yang sehat, terdapat jiwa yang kuat.

Kita perlu mengatur pola pikir dengan baik. Apa yang perlu dipikirkan dan apa yang tidak perlu selebihnya jangan berlebihan memikirkan sesuatu yang kita tidak mampu. Misalnya ada orang yang memaksakan diri untuk mendapatkan ambisinya, realitanya tidak tercapai. Maka, kekecewaan akan membakar dirinya. 

Contohnya anak-anak yang salah dalam pola asuh dari orang tuanya atau mengalami inner child atau luka di masa kecilnya, maka dia akan tumbuh menjadi anak yang kasar, rapuh, mudah depresi, mudah emosi, mudah salah jalan dan mudah dipengaruhi orang lain akibatnya, dia akan ikut-ikutan serta tidak bisa mengatur perasaannya.

Prilaku yang muncul yaitu seorang anak akan sering berkelahi, bertengkar, toxic, playing victim dan kasar. Semua perbuatan itu akan mengakibatkan bergesernya moral remaja sehingga muncul kasus tawuran, pelecehan, mabuk-mabukan, dan kriminal.

Seorang anak yang terluka secara batin akan punya rasa dendam. Nah, dia akan melampiaskannya pada orang lain. Tak peduli siapapun itu, dia tidak peduli dengan diri sendiri dan mudah terbawa emosi.

Kamu pernah melihat realita orang dewasa yang secara fisik sehat, tapi secara batin hatinya kosong? Kamu pernah juga melihat seseorang yang hidupnya dikelilingi uang dan kerabat, tapi dia merasakan kesunyian? Ya, ternyata banyak orang-orang yang seperti itu saat ini. Mereka gila kerja dan gila mencari sebuah pengakuan, semata-mata untuk sekadar ingin dihargai. 

Seolah-olah mereka jauh dari kebahagiaan. Padahal, bisa jadi orang itu memiliki segalanya, tapi tidak mensyukurinya. Dia hidup dalam bayang-bayang rasa haus akan kasih sayang. Karir, prestasi, jabatan dan kekayaan yang dia kejar, tidak semata-mata membuatnya bahagia. Meskipun dia mencapai salah satunya, tapi selalu merasa kurang. Orang-orang tersebut bisa jadi  sedang mengalami masalah mental.

Cobalah tengok masa lalunya, semua peristiwa di masa silam akan mempengaruhi sikap seseorang di kala dewasa. Inilah sebabnya orang tua perlu memberikan validasi berupa rekonsiliasi pada anak karena anak butuh pengakuan, butuh dicintai dan diakui keberadaannya.

Jika tidak, akibatnya terjadi luka pengasuhan. Hal ini akan menyebabkan seorang anak tumbuh dan berkembang menjadi orang yang haus akan pengakuan dan butuh validasi 

Bila orang lain yang memberikan hal itu tentu akan berbeda, tapi bila yang melakukan hal itu orang tua, maka utang pengasuhan akan terbayar lunas.

Kedekatan batin antara anak dan orang tua dipengaruhi oleh hal ini. Apa yang diinginkan seseorang yang punya masalah luka atau hutang pengasuhan? Bisa jadi dia akan bekerja keras mencapai sesuatu dan merasa dirinya tidak berguna, bila ia tidak berhasil. Misalnya seseorang yang terus mengejar prestasi kuliah S3 sampai ke luar negeri. Kemudian, dia masih bilang, saya masih belum berprestasi. Saya belum mencapai impian. Saya belum kaya. Saya belum ada apa-apanya.

Perasaan haus dihargai ini akan membuat mentalnya terganggu misalnya dia terluka sedikit saja, maka lukanya seperti ditimpa badai.Ya, hal-hal yang remeh, bisa jadi besar. Bahkan, parahnya dia akan berusaha untuk melakukan berbagai cara demi dicintai orang di sekelilingnya tanpa peduli akan tubuh dan dirinya sendiri. 

Ini yang menyebabkan seseorang tidak menyayangi dirinya dan cenderung menyalahkan diri sendiri, sehingga bila tinggal di lingkungan yang toxic dia akan terluka, dimanfaatkan orang lain, bahkan dia menjadi orang yang menyakiti diri sendiri.

Parah bukan? So, sejak dini mari didik anak-anak dengan kasih sayang. Kehadiran kita sangat bermakna bagi mereka. Berikan waktu yang berkualitas dalam mengasuh dan mendidik mereka. Jangan biarkan hati mereka kosong dan haus akan tangki kasih sayang.

Solusi dalam masalah ini yaitu Self-talk. Tahukah Anda apa itu self talk? Ya, self talk adalah berbicara dengan diri sendiri menggunakan cara yang positif. Upaya ini juga dapat membantu seseorang dalam mengambil keputusan dengan tepat dan menjadi lebih bijak dalam menghadapi masalah kehidupan.

Melalui positive self-talk, seseorang akan terus terdorong untuk berpikir positif, optimis, termotivasi, dan selalu berusaha melihat sisi positif dari segala hal. Salah satu contoh afirmasi dalam positive self-talk adalah kalimat “semua akan baik-baik saja.”

Anda juga bisa mengatakan pada diri sendiri: “Tidak apa-apa, saya memaafkan mereka karena Allah. Saya yakin semua yang terjadi akan menjadi hikmah dalam hidup ini.”

Jika Anda belum merasa lega Tarik napas perlahan dalam hitungan 1-12 lalu ulang sampai tiga kali dan coba katakana lagi afirmasi positif pada diri sendiri. Lakukan hal ini sampai dada terasa ringan. Semoga tulisan ini bermanfaat. Salam sehat mental.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Harian Mereguk Ilmu

Perasaan Terbuang, Si Anak Broken Home

Intisari Ilmu, Workshop Guru Menulis “Bukan Hanya Sekadar Tulisan Biasa”