Lepaskan, Jadikan Sabar dan Ikhlas untuk Pulih



Healing, aku sering mendengar kata itu. Aku juga selalu berjuang untuk bisa aware terhadap diri sendiri. Sampai aku tersadar, di saat aku sedang tidak baik-baik saja, aku memutuskan untuk berjuang agar tetap kuat dan tidak mudah terpengaruh oleh stres. Adakah kamu juga punya masalah yang sama? Tentang kesehatan mental yang mudah kambuh dan kadang rapuh? Ya, jika kamu juga merasakan hal yang sama, mari kita berjuang untuk menaklukkannya.

Sahabatku, tidak semua orang kondisi mentalnya selalu baik-baik saja, adakalanya badai kehidupan datang silih berganti dalam hidup kita. Terkadang karena masalah beban ekonomi, masalah batin yang tersiksa, luka karena lingkungan yang toxic dan tidak punya tempat untuk menuangkan segala rasa. Artinya selalu dituntut untuk selalu sempurna dan tidak mau mengakui dengan jujur, apa yang tersimpan di hati.

Sahabatku, sebelum terlambat dan letupan-letupan luka kecil yang ada dalam jiwamu menjadi besar, berilah kesempatan dan jaga mentalmu agar tidak semakin terluka. Bukankah kamu punya hak untuk berhenti sejenak dari rutinitas yang membuat jiwa dan ragamu kelelahan? Bukankah kamu punya jeda untuk menghindar dari lingkungan yang toxic? Bukankah kamu punya kesempatan untuk bercerita pada orang yang kamu percaya?

Bukankah kamu punya Allah, tempat mencurahkan segala resah? Jangan ada rasa takut atau malu mengakui bahwa kamu sedang sakit atau kambuh. Jangan pernah biarkan jiwamu ketakutan terus menerus dan berjuanglah pelan-pelan untuk sabar melepaskan semua kerikil luka itu. Jika luka itu semakin lama semakin banyak, maka lukamu akan membesar. Jika terjadi letupan emosi, resikonya bisa menimbulkan luka yang dahsyat dan akhirnya kamu melukai diri sendiri dan berada pada titik nadir kehidupan.

Saat ini kita tidak bisa mengelak dari takdir. Kita tidak bisa bersembunyi dari orang-orang yang sering melukai, bahkan kita tidak bisa pergi dari kenyataan. Meski begitu, jangan merasa sendiri atau semakin terluka. Jangan salahkan keadaan. Terima saja keadaan yang ada dengan ikhlas. Meski kutahu kamu butuh proses dan waktu untuk melepaskan semua luka dan berdamai dengan keadaan.

Memaafkan memang tidak mudah dan cukup sulit bila hati kita masih terluka. Namun, ingat bahwa kamu harus melakukannya demi merawat mentalmu agar selalu baik-baik saja. Ciptakan ruang untuk diri sendiri agar bisa bertumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan dihargai banyak orang, caranya dengan memberikan manfaat untuk orang lain.

Orang-orang yang membutuhkanmu akan mencarimu. Mereka akan malu karena orang yang mereka injak harga dirinya, yang mereka acuhkan dan sakiti, selalu berbuat baik, bahkan memberi manfaat. Sebanyak apapun dia mengajak orang lain untuk membencimu, hal itu tidak akan bisa dilakukan karena kamu dibutuhkan orang lain dan kamu berperan bagi hidup orang lain. 

Sedikit atau banyak, lakukan hal yang kita bisa. Jangan bersikap egois dan mau menang sendiri. Pupuk kebaikan, walau hanya sebesar biji zarrah. Bangkitlah perlahan dengan melalui berbagai proses salah satunya dengan menulis jurnal harian. Ingatlah usaha tidak akan mendustai hasil. Mari semangat menjaga diri agar selalu waras.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Harian Mereguk Ilmu

Perasaan Terbuang, Si Anak Broken Home

Intisari Ilmu, Workshop Guru Menulis “Bukan Hanya Sekadar Tulisan Biasa”