Aku Ranting yang Rapuh

 


Aku sebuah pohon yang tertiup angin kencang. Rantingku yang rapuh, hampir patah. Daun-daunku berguguran jatuh ke tanah terbawa angin. Bila musimnya tiba, bunga-bungaku bermekaran dari pucuknya yang kuncup. Banyak orang memetik bungaku yang harum. Hidupku berbunga-bunga. 

Oh, indahnya aku bahagia. Namun, bila musimnya tiada, tak satu pun orang yang sudi menatapku. Rantingku menjadi kayu bakar dan daun-daunku terinjak-injak bahkan layu. Tak satu pun mata yang mau duduk dan bersandar di bawah pohon yang rindangku nan kokoh.

Beberapa pasang mata merasa iba, tapi aku hanyalah ciptaan Tuhan yang tak sempurna. Di sekitarku, ada orang-orang yang bertampang manis hanya saat berada di dekatku, bila menjauh mereka berpura-pura. Seakan-akan aku hanyalah sampah tiada guna. Ya, begitu banyak mulut manis yang berdusta.

Tetiba aku bertanya, mengapa jiwaku mudah rapuh? Dapatkah aku bertahan dibalik gurauan senyuman. Baru kusadari, aku hanya ilalang di tengah padang rumput. Kehadiranku tak dihargai, bahkan hanya dianggap hama.

Jiwaku bagai diiris sembilu. Sayatan luka menyisakan derai air mata. Serbuk luka yang menggunung telah melewati batas puncaknya. Aku tak ingin gunung itu memuntahkan larva panas yang membahayakan orang lain. 

Aku berlari sekuat tenaga dan mencari secercah ketenangan. Biarlah ku ikuti mata air. Di sungai yang damai, biar luka ini mengalir sampai ke hulu. Bila dia datang lagi, aku kan memeluknya. Bila masih sesak aku akan mengasuhnya dari masa ke masa. Biar aku merawatnya sampai tiba menutup mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Harian Mereguk Ilmu

Perasaan Terbuang, Si Anak Broken Home

Intisari Ilmu, Workshop Guru Menulis “Bukan Hanya Sekadar Tulisan Biasa”