Perjuangan Hidup Anak Down Syndrom
Setiap hari Marwa bercengkrama seorang diri tanpa teman, dia kesepian. Dibalik senyumnya, dia menyimpan getir luka. Marwa, seorang anak penderita down sindrom berusia 14 tahun yang malang. Dia menggaruk tubuhnya karena merasa gatal. Entah karena masalah alergi atau hormon, dia menikmati derita itu tanpa diobati.
Orang tuanya tidak mampu membiayai untuk pengobatan ke rumah sakit, apalagi untuk berkonsultasi ke psikolog. Marwa tumbuh menjadi gadis yang istimewa. Dia tak mampu berbicara, hanya bisa berteriak dan menjerit. Ya, semua orang menatapnya iba karena marwa juga tidak bisa normal, seperti anak-anak lain pada umumnya. Dia hanya diam membisu, tetapi dari sudut matanya, seakan-akan dia ingin bercerita.
Aku mengenal Marwa dari sang kakak yang dahulu pernah menjadi siswaku. Setiap kali bertemu dengan Marwa hatiku terenyuh. Bagaimana tidak? Kondisi Marwa cukup memprihatinkan. Dia sering menggigit jari dan mengeluarkan air liur. Bahkan, dia juga jarang tidur karena selalu begadang. Keanehan lainnya, porsi makan Marwa cukup banyak. Namun, tubuhnya tidak pernah berkembang besar.
Marwa sangat aktif. Dia tidak bisa diam dan selalu berteriak. Apa yang dia lihat dan rasakan selalu diungkapkan lewat teriakannya. Kadang dia tertawa, kadang takut dan kadang juga menangis. Dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Marwa membisu tetap matanya selalu bicara.
Ketika aku memeluknya, dia hanya tersenyum dan terlihat tenang. Dia senang disentuh, dipeluk dan dielus rambutnya. Dia juga sama seperti anak-anak lainnya. Butuh kasih sayang dari semua orang. Sayangnya, Marwa sejak kecil terlahir sebagai anak yatim dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan. Ibunya tidak bekerja karena harus menjaga marwa 24 jam.
Marwa tidak bisa hidup bebas, bagai terkurung dalam sangkar. Dia selalu terkurung karena ibunya khawatir, dia akan kabur dari rumah dan pergi seorang diri ke mana-mana. Kondisi Marwa sangat rentan kena masalah mental karena sebenarnya jiwanya adalah sosok remaja yang punya rasa ingin tahu yang besar dan ingin bermain atau bersosialisasi dengan orang lain. Sayangnya dia tidak punya teman karena semua orang takut padanya, bahkan sering membully dia.
Marwa adalah gadis lincah, meski tubuhnya kecil seperti anak kelas dua SD, tapi jiwanya sudah beranjak dewasa. Dia ingin disayangi dan haus akan perhatian. Marwa merupakan potret anak istimewa yang hidup dalam kemiskinan. Ibunya hanya mengandalkan dua orang anaknya yang sudah besar untuk menopang hidup sehari-hari. Keluarga Marwa terdiri empat orang. Satu diantaranya masih usia sekolah.
Marwa memang tidak sempurna secara fisik, tetapi dia juga punya hak untuk hidup dan diterima oleh lingkungannya. Jangankan untuk merasakan pendidikan, untuk makan sehari-hari saja sulit. Ya, Marwa tidak pernah ditangani oleh tenaga profesional karena kondisi ekonomi yang sulit. Keluarganya hidup dalam kesederhanaan.
Saya telah mengenal Marwa sejak lama. Gadis kecil ini tidak tuli, dia mampu merasakan meski tidak mampu berbicara. Dia juga mampu berpikir, meskipun tidak sempurna seperti anak lain pada umumnya. Kondisi Marwa ini sangat memprihatinkan karena tidak mendapat bantuan dari pemerintah atau lembaga mana pun yang bisa memfasilitasinya untuk berobat atau mengetahui perkembangannya.
Seiring berjalannya waktu, Marwa hidup dalam pengasuhan orang tua yang serba kekurangan, tapi walau begitu, ibu dan kakaknya tetap bertahan untuk menjaga dan mengurus Marwa. Apakah tidak ada orang yang bisa membantu Marwa? Seandainya Anda adalah Marwa bisakah Anda setangguh dia?
Tidak ada yang salah dengan ciptaan Allah Swt. Kisah Marwa adalah sebagian kecil dari potret anak malang di dunia ini. Allah tunjukkan pada kita semua bahwa masih banyak orang yang harus ditolong dan sebagai manusia kita harus panada bersyukur pada karunia Allah Swt yang telah memberikan nikmat sehat dan fisik yang sempurna. Tulisan ini adalah bentuk rasa prihatin saya dengan nasib seorang Marwa.
Semoga teman-teman pembaca mendapatkan ibrah dari cerita ini. Salam semangat, mari kita doakan agar anak istimewa seperti Marwa mampu bertahan hidup dan bisa merasakan kebahagiaan, amiin.
Masyaallah. Emang sekolah luar biasa ga ada bantuan dr pemerintah kah kak? Aku baru tau kl byk anak down syndrome yg kesulitan sekolah krn biaya. Kenapa gaada bantuan ya? Harusnya ada loh krn negara kita mengusung pendidikan berkeadilan, semestinya.
BalasHapus