Marah yang Positif, Adakah?


 

Setiap orang tentu pernah merasakan marah. Apalagi jika di masa lalu ada peristiwa yang membuat hati terluka. Seharusnya di masa kini kita sudah berdamai dengan keadaan, tapi memang tidak mudah memaafkan suatu hal pada orang lain dalam waktu cepat dan kita tidak bisa menyembunyikan perasaan tersebut.

Luka hati dan trauma yang mandarah daging yang dirasakan dari sebuah masalah dan belum tuntas membuat seseorang terjebak dalam pikiran negatif sehingga tidak bisa berpikir dengan logika karena menuruti hasratnya untuk bersikap emosi. Seberapa besar luka dan emosi yang dirasakan oleh seseorang, tentu tidak mudah untuk dilupakan. 

Ada hadits yang mengatakan: “Janganlah kamu marah, niscaya bagimu surga.” Artinya Allah tidak menyukai orang yang marah karena marah lebih dekat pada prilaku setan. Marah yang negatif akan mengakibatkan kondisi hati menjadi buruk, penuh dendam dan bisa menjadi penyakit hati yang dapat menggerogoti diri kita, sehingga timbul penyakit fisik maupun psikis. Contohnya karena tidak bisa melampiaskan emosi dan selalu berusaha menahan kebencian, maka kita akan terserang stres, struk, sakit jantung hingga magh. 

Maka, pentingnya secara tepat menyalurkan rasa emosi yang ada di hati dan tidak gegabah dalam menyalurkan rasa marah karena marah yang tidak sehat dan teroganisir dengan baik, akan berdampak sangat buruk dalam kehidupan. Sedangkan marah yang disalurkan dengan baik dan kita bisa berdamai dengannya, maka kita akan menjadi pribadi yang bijak dan stabil.

Tidak ada orang yang mudah dan kuat melawan emosinya sendiri, oleh karena itu orang yang bisa melawan emosinya berarti orang tersebut begitu tangguh dan punya sikap yang patut untuk diacungi jempol.

Tahukah kamu bahwa marah yang sehat bukan tentang balas dendam atau menyakiti orang lain? Secara verbal atau fisik, tapi marah yang dikomunikasikan dengan jelas dan efektif dan kamu tidak harus sibuk dengan kemarahan. Marah yang sehat adalah jika itu membuat kamu lega dan baik-baik saja pada diri sendiri dan orang lain. 

Sedangkan marah yang tidak sehat menimbulkan pikiran ingin menyakiti orang lain, membuat mereka merasakan apa yang kamu rasakan atau lebih buruk dari itu. Kemarahan yang tidak sehat dapat membuat kamu kehilangan kendali dan berakibat fatal, merusak jiwa serta merugikan secara emosional dan fisik. Tanda-tanda kemarahan yang tidak sehat yaitu kamu sulit melepaskan amarah dan kamu masih disibukkan oleh pikiran negatif terhadap diri sendiri atau orang lain akar dari rasa marah biasanya terletak pada beban emosional di masa lalu.

Jika kamu merasa overthinking dan merasakan bahwa dibalik rasa marah terdapat rasa sakit hati, kesedihan mendalam, perasaan ditolak, diabaikan, dipermalukan dan dihina, maka kemarahan tersebut kemungkinan besar berasal dari perasaan yang belum diproses dengan baik di masa lalu.

Memang sulit untuk mengakui bahwa ada rasa amarah yang masih tersisa, tapi hal ini sangat wajar karena bisa jadi saat di masa lalu ada masalah yang belum tuntas dan kamu belum berdamai dengan keadaan.

Bagaimana cara berdamai dengan rasa marah? Caranya yaitu jangan menyimpan emosi terlalu dalam, luapkan dengan baik melalui berbagai cara yang positif misalnya dengan olah raga, mendengarkan musik, nonton film, curhat, me time atau healing.

Posisikan diri kamu dalam suasana yang rileks, tidak tegang, santai dan tidak sedang lelah atau sibuk. Semua itu agar pikiranmu jernih lalu putuskan dan hadapi amarah, jangan sampai kamu tidak siap menerima rasa marah dan dalam kondisi sakit atau kelelahan lalu kamu meluapkan rasa marah negatif secara membabi buta inilah yang menyebabkan amarahmu dikendalikan oleh setan bukan diri sendiri. 

Semarah apapun pada suatu hal, pikirkan baik-baik sebelum melampiaskan rasa marah dan meluapkannya karena bila tidak tepat sasaran, hanya akan melukai diri sendiri. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua dan memotivasi supaya bisa mengendalikan amarah, amiin. 

Komentar

  1. setuju banget kak. aku pun selalu meluapkan rasa marah dengan melakukan hal hal yang aku sukai,,

    BalasHapus
  2. Menyalurkan kemarahan tersebut pada sebuah tulisan adalah caraku

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Harian Mereguk Ilmu

Perasaan Terbuang, Si Anak Broken Home

Intisari Ilmu, Workshop Guru Menulis “Bukan Hanya Sekadar Tulisan Biasa”