Sahabat Palestina

 


“Duarr! Awas… ada bom! Kita harus selamatkan warga dan pindahkan mereka ke tempat pengungsian!” teriak Qiyas sambil mengangkat senjata mainannya. Sebuah sorban terlihat melilit di lehernya. Sedangkan balutan bekas luka yang ditetesi betadin, terlukis sempurna di tangannya. Seakan-akan membuat aksinya terlihat nyata. Tiba-tiba Bunda datang, menghampirinya dari dapur.

“Kamu main apa, Yas. Kelihatannya seru banget. sih?” tanya Bunda penasaran.

“Kenalkan namaku Qiyas, aku adalah pejuang Hamas. Dengan kekuatan langit, aku akan melindungi rakyat Palestina dan menjaga Masjid Al-Aqsa.” Jawab Qiyas dengan tatapan penuh semangat.

“Oh, anak Bunda ceritanya sedang akting jadi pejuang nih, mau membela Palestina? Kamu tahu dari mana, kalo Palestina sekarang sedang terjadi perang?” tanya Bunda heran. Ia geleng-geleng melihat aksi Qiyas yang satu ini. Qiyas memang anak yang aktif dan cerdas. Ia suka membuat suasana seisi rumah menjadi ramai, karena tingkahnya yang tidak bisa diam.

“Tahu dari berita di TV Bun.” Jawab Qiyas polos. Ia langsung menekan tombol pada remote TV dan menunjukkan berita tentang palestina. Setelah itu, Bunda terlihat meneteskan air mata dan mengelus dada. Qiyas juga larut dalam kesedihan, setelah menyaksikan anak- anak palestina yang terluka, sedang dirawat pada sebuah rumah sakit.

“Siapa yang bisa menolong nasib anak-anak Palestina saat ini, Bun? Apakah mereka juga sedang berpuasa seperti kita?” tanya Qiyas dengan tatapan mata nanar.

“Tentu saja Allah Swt, Nak!” jawab Bunda.


“Gimana caranya supaya bisa bantu mereka, Bun?” tanya Qiyas bingung. “Mudah, kok. Pertama jangan lupa kita doakan mereka ya, Nak!”

“Pasti, Bun. Kalo yang kedua apa, Bun?”

“Kamu bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka. Sisihkan uang jajanmu setiap hari dan kalo nanti kamu dapat angpau lebaran, uangnya juga bisa buat tambahan berbagi ya, kan?”

“Baiklah Bun, aku akan mulai menabung. Insya Allah, uang angpau lebaranku nanti juga untuk Palestina.”

“Syukurlah kalo begitu. Oh iya, kenapa tiba-tiba kamu mau bantu mereka? Bukannya kamu nggak kenal sama mereka?”

“Iya sih, Bun. Tapi kata Bu guru, ada sebuah hadits riwayat Muslim yang isinya:  Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba itu menolong saudaranya. Jadi, aku mau menolong mereka, karena mereka juga saudaraku.”

“Betul, Nak. Bunda dukung niat mulia kamu ini.” jawab Bunda penuh rasa haru.

Bunda memberikan sebuah celengan berbentuk ayam pada Qiyas. Dengan perasaan senang, Qiyas menerimanya dan langsung memasukkan beberapa lembar uang. Jatah uang jajannya hari ini dari Bunda.

***

Tak terasa hari raya telah tiba. Setelah melaksanakan salat IdulFitri di Masjid, Qiyas dan keluarganya berkumpul di rumah Kakek. Mereka saling bersalam-salaman, menikmati sajian lebaran dan berfoto bersama dengan seluruh anggota keluarga.

Setelah menunggu lama akhirnya, hal yang paling dinantikan Qiyas pun tiba. Kakek menyuruh semua cucu-cucunya berbaris. Dengan sigap Qiyas membuat barisan rapih, bersama teman-temannya. Wajahnya nampak ceria. Saat itu mata Qiyas tertuju pada lembaran biru uang lima puluh ribuan yang dipegang Kakek.

“Ini angpau lebaran buat Qiyas!”

“Alhamdulillah, makasih ya, Kek. Akhirnya aku dapat angpau lebaran.” Ucap Qiyas polos. Ia pun langsung mencium tangan Kakeknya.

“Kelihatannya Qiyas seneng banget, memangnya uang itu mau Qiyas gunakan untuk membeli apa?” tanya kakek heran.

“Qiyas mau berbagi dengan anak-anak Palestina Kek.” Jawab Qiyas yakin.

“Masya Allah, cucuku memang anak sholeh. Nah, kalo Azzam dan Azriel uangnya mau buat beli apa?” kakek bertanya pada kedua cucunya yang lain.

“Kami berdua mau beli mobil mainan dong, Kek. Rencananya besok kami akan berangkat diantar oleh Ayah ke Mall.” Ucap Azzam dengan wajah sombong.

“Kamu ikut aja sama kami, Yas. Lagi pula, mobil-mobilan kamu kan, udah rusak!” ajak Azriel setengah memaksa. Qiyas hanya menggeleng, ia menolak tawaran kedua sepupunya. Padahal, sebenarnya ia ingin punya mobil-mobilan baru, tetapi kali ini ia harus menahan keinginannya itu, karena ia telah berniat memberikan semua uang miliknya untuk Palestina.

“Percuma, kamu berbagi dengan anak-anak Palestina Yas! Mereka aja nggak kenal sama kamu!” seru Azriel dengan nada ketus.

“Iya, kamu belagu banget sih, sok mau berbagi dengan anak-anak Palestina!” balas Azzam kesal. Qiyas mencoba untuk menahan diri, ia menarik napas panjang sambil menjawab dengan lantang dan yakin.

“Pokoknya uang angpau ini, mau aku sumbangin untuk anak-anak Palestina! Aku nggak mau ikut kalian, jadi kalian nggak bisa memaksaku.” Jawab Qiyas lantang. Ternyata kedua temannya tak memahami keinginannya. Ia pun pulang ke rumah dengan hati kecewa.

***

Setelah sampai, ia memberikan celengan ayam dan uang angpau lebaran, pada Bunda. “Bun, semua uang ini tolong berikan pada anak-anak Palestina yah!” pinta Qiyas.

“Baik, besok Bunda transfer uangnya ke ACT. Sebuah lembaga yang mengurus dana kemanusiaan Palestina. Terima kasih ya, sudah mau berbagi sama Palestina. Ngomong- ngomong, buat apa botol kemasan bekas itu? Kok, desain botol ini mirip mobil-mobilan yang di bukumu?” tanya Bunda heran.

“Aku ikhlas kok, Bun! Oh, ini… Aku mau buat mobil-mobilan dari bahan yang ramah lingkungan Bun, dari pada beli mending buat sendiri.” Ucap Qiyas sambil tersenyum.

“Betul, Nak. Kita tidak boleh menghambur-hamburkan uang untuk membeli mainan baru, lebih baik uangnya kita sumbangkan ke Palestina. Insya Allah kebaikanmu ini, akan menjadi pahala untuk akhiratmu. Bunda bangga padamu, Yas.” Ucap Bunda sambil memandang putranya dengan tatapan haru, penuh rasa bahagia.


End

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Harian Mereguk Ilmu

Perasaan Terbuang, Si Anak Broken Home

Intisari Ilmu, Workshop Guru Menulis “Bukan Hanya Sekadar Tulisan Biasa”