Kesaksian Sebuah Kain Kafan
Pada tiap lembar kain kafan putih itu menyaksikan malaikat-malaikat kecil, mayatnya begitu harum. Ruhnya terbang ke angkasa melambai tanpa suara dengan senyum sumringahnya.
Darah yang mengucur di raga malaikat itu begitu segar lalu membisik ke dalam lubuk jiwaku. Seakan menyiratkan rahasia.
Mata sang malaikat kecil itu dicongkel dengan kejamnya, tapi ruhnya berkata: “Aku akan kembali pada Sang Pemilikku.”
Dialah Rabb semesta alam yang maha adil. Tidak ada pengadilan yang paling nyata kecuali pengadilan-Nya dan setiap lembar kesaksian raga mayat-mayat tak berdosa itu akan menagih janji pada Sang Pemiliknya.
Genosida lebih dari 30 hari meleburkan tanah gaza menjadi gersang, api membakar di seluruh penjuru hingga tak tersisa.
Mayat-mayat bergelimpangan hingga tak tersisa makam untuk mayat-mayat tak berdosa itu. Dalam satu liang lahat mayat-mayat itu berkumpul jadi satu. Mereka bersama kekurangan kafan putih.
Kafan putih itu bercerita: “Tak ada lagi yang tersisa di sini, hanya malam gelap tanpa cahaya dan kedinginan menyapa negeri para nabi.”
Penduduk yang masih bernyawa melewati gundukkan tanah dan pusara keluarganya sambil mengucap kata perpisahan. Tibalah saatnya mereka pergi meninggalkan Gaza yang kini bagai kota mati, tak ada kehidupan yang tersisa.
Pengungsi mencari setitik asa, berjalan ratusan kilometer mencari tempat untuk bertahan dan meniti lembar hidup yang baru di tempat asing yang tak pernah dijamahnya.
Dalam gurat tawakal mereka berbondong-bondong mencari belas kasih saudaranya yang mengulurkan tangan. Adakah yang peduli?
Bumi Allah, 12 November 2023
jadi reminder untuk diri aku juga ni kak, huuuh. syukron tulisan kerennya
BalasHapusTerima kasih
BalasHapus