Di Balik Layar yang Redup, Ada Jiwa yang Tetap Menyala
Waktu seolah melambat saat sebuah pesan masuk di grup utama mahasiswa. Di sana, tertulis kalimat-kalimat tajam tanpa filter yang seketika meruntuhkan perasaan. Tuduhan tak berdasar itu nyaris melempar jiwa ini ke dalam penyesalan yang tak berkesudahan. Pikiran mendadak buntu, dipenuhi rasa gagal, seakan dunia berhenti berputar pada detik itu juga. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk sekadar mencerna dan menerima kenyataan pahit tersebut. Pemicunya adalah penilaian dari dosen yang menyebut bahwa artikel ilmiah tim kami menggunakan referensi palsu. Beliau bahkan memperingatkan agar kami lebih selektif dan tidak asal mencatut sumber dari internet. Mendengar itu, hatiku terasa getir. Bagaimanapun, aku adalah seorang guru yang sangat akrab dengan dunia literasi. Malam sebelum dokumen itu diunggah ke Google Classroom, aku sendiri yang memeriksa dan menyuntingnya dengan sangat teliti. Kalimat demi kalimat kuperiksa secara saksama demi memastikan kelayakannya sebelum dib...