Harmoni Indah 2 Cahaya
Ketika senja datang di peraduan. Air hujan turun rintik-rintik. Seseorang menikmati secangkir kopi tanpa gula. Alin namanya, gadis yang masih duduk di bangku kuliah dan penikmat aroma petrikor. “Masih aja sibuk pegang buku, anak muda lain pegang tangan pacarnya, Lin.” Bibi Parni sengaja mengejek. Alin sedang bergulat dengan soal-soal ujian. Dia sedikit angkuh karena sang bibi mengusiknya. “Aku nggak peduli,” Alin cuek. Dia keras seperti balok es. “Masih percaya sama mimpi? Di saat semua orang sibuk dengan pesta, kamu malah…” Bibi Parni tak melanjutkan ucapannya. “Sudahlah, Bi. Jangan tanya aku lagi.” “Malam ini, semua anak muda di wilayah rumah kita merayakan pernikahan Silvi.” “Tumben Bibi mau ngobrol hal ini sama aku,” “Kamu nggak peduli? Bukannya dia sahabat dekatmu?” tanya Bibi Parni heran. “Bukan begitu, Bi. Aku nggak ikut karena sibuk, Bi.” Alin menjawab dengan wajah kaku. “Kapan kamu nggak sibuk? Lagian otakmu nggak capek apa, dipakai belajar terus? Coba k...